SEJARAH SEMENANJUNG ONIN DI KERAJAAN RUMBATI DAN SIRI SORI DI KERAJAAN HONIMUA (SAPARUA)

CERITA SEJARAH RUMBATI SEMENANJUNG ONIN ADALAH sebuah semenanjung yang membentuk wilayah Kabupaten Fakfak di Papua Barat, juga merupakan sebuah rumpun bahasa atau rumpun etnik yang saling memengaruhi antara daratan Papua Barat dengan Kepulauan Maluku. "Semenanjung Onin" oleh beberapa ahli sejarah dianggap sebagai tempat yang disebut sebagai "Wanin" dalam Naskah Negarakertagama. Di Semenanjung Onin terdapat tiga kerajaan tradisional, yaitu kerajaan Rumbati, kerajaan Fatagar, dan kerajaan Atiati. Kerajaan Rumbati, di Rumbati dan sekitarnya dan marga Rajanya adalah Bauw. Pada mulanya pusat-pusat kekuasaan ketiga kerajaan tersebut berdampingan letaknya di ujung barat Semenanjung Onin, tetapi oleh karena peperangan yang timbul antara kerajaan Rumbati di satu pihak melawan kerajaan Fatagar dan kerajaan Atiati dan kekalahan kerajaan Fatagar Dan Kerajaan Atiati akhirnya kedua kerajaan ini keluar dari kekukuasaan Kerajaan Rumbati di Semenanjung Onin. Kerajan Rumbati selain memegang kekuasan terhadap kerajaan Fatgar Dan Kerajaan Atiati, ada juga kerajaan-kerajaan kecil anatara lain 1.Kerajaan Sekar 2.Kerajaan Patipi 3.Kerajaan Wertuar 4.Kerajaan Arguni 5.Kerajaan Uswanas Disemenajung Onin pada Kerajaan Rumbati mendengar banyak hal tentang tanah Iha di pulau Honimua tentang hasil perdagangang rempah-rempah dari pendatang atau pedagang ARAB,CHINA DAN EROPA. Di kerajaan Rombati sudah mengenal dan maju dalam sisih dagang, perjalananan anak dari raja Rumbati dari kerajaan Rombati ke Tanah iha bukan perjalanan dagang, tetapi' karena masalah perebutan kekuasaan kerajaan Rumbati di semenanjung Onin.Kerajaan Rumbati (Raja Rumbati) Memiliki 3 Anak Laki-laki dan 1 anak Perempuan, dengan adanya Raja Rumbati sudah merasa tua dan kesakitan dan tidak mampu memegang tahkta Kerajaan Rumbati lagi, maka Raja Rumbati memilih dari salah satu dari ketiga anak untuk menggantikan dirinya.maka atas beberapa pertimbangan tertentu, Raja lalu mengambil keputusan untuk menyerahkan jabatannya selaku Raja kepada anak yang bernama Pusan. Maka Pusan Memimpin Kerajaan Rumbati menggantikan Ayahnya,tetapi'setelah Pusan Menjadi Raja Rumbati,Keputusan Raja Onin, mendapat tantangan dari saudara-saudara kandung Raja yang lain. Sesuai adat-istiadat di Tanah Onin, 5 saudara Raja merasa lebih berhak dari Pusan anak laki-laki Raja Onin. Juga ke 4 saudara perempuan Raja Onin, menganggap Raja Onin curang dalam pengambilan keputusan. Berbagai Kritikan dari saudara-saudara Raja tidak mendapat perhatian Raja. Raja Onin sendiri tidak lama kemudian wafat dan Pusan menjadi Raja mengganti Ayahnya dalam usia yang relative amat muda. Semasa Pusan memerintah, suatu saat terjadi peristiwa yang menimpa adik permpuannya yang bungsu. Adik perempuannya ini mengidap penyakit yang menyebabkan perubahan pada bentuk badannya, hingga tampak seperti seorang perempuan yang sedang hamil. Perubahan bentuk badan yang demikian dari saudara perempuan Raja Pusan menimbulkan amarah dari ke 2 adik laki-laki Pusan, bukan saja terhadap adik perempuan mereka tapi juga terhadap Pusan. Menurut prasangka mereka Pusanlah yang menghamilkan adik perempuannya sendiri.dengan beban yang dialami oelh adik perempuan Pusan dengan keputusan yang berat untuk meninggalkan kerajaan Rumbati,tapi'apa mau di kata suatu kerajaan banyak hak dan kedudukan yang ingin dimiliki orang walaupun tanpa pengalaman,tapi ' hanya kenamaan di masa lalu bahkan sampai saat ini. Akhirnya Keputusan dari Pusan untuk meninggalkan Kerajaan Rumbati sudah ada di benaknya karena aturan di kerajaan Rumbati Menurut adat-istiadat di tanah Onin, menghamilkan saudara perempuan sendiri merupakan perbuatan hara8m. Persoalan ini kemudian menimbulkan ketegangan di antara saudara-saudara dari ayah Pusan, yang dulunya tidak setuju Pusan menjadi Raja di Onin. Ketegangan ini memuncak, dimana kedua saudara Pusan mengadakan siasat dan mufakat bersama dengan seisi negeri Rombati untuk membunuh Pusan dan adik perempuan mereka dengan cara menenggelamkan keduanya ke dalam laut sesuai dengan adat-istiadat di tanah Onin. Namun rencana pembunuhan itu diketahui oleh Hahosan, yaitu kepala urusan rumah tangga dari raja dan hal itu diberitahukan kepada Pusan. Bagi Hahosan tidak ada pilihan pilihan lain selain Raja Pusan dan adik perempuannya harus melarikan diri dari tanah Onin. Sebab selain seisi negeri Rombati, semua anggota pemerintah negeri sudah memihak kepada kedua saudara Pusan, kecuali Lakesa, penasihat raja dan pemerintah. Atas anjuran Hahosan berangkat, kemudan diadakan persiapan seperlunya oleh Lakesa dan dibantu oleh Hahosan berangkat menuju pantai. Pusan dipanggil oleh adik perempuannya “Masbait Pusan”, sedangkan Pusan memanggil adik perempuannya dengan nama “Ikuollo”. Di pantai tanah Onin terdapat sebuah perahu di bawah pohon Salemuli dan dengan perahu itu Masbait Pusan, Ikuollo,Hahosan dan Lakesa melarikan diri dari tanah Onin, tanpa diketaui oleh siapapun di Negeri Rombati dan tempat tujuan mereka adalah pulau Tanah Iha, karena mereka sering bertemu dengan orang-orang dari Pulau Tanah Iha yang datang ke Negeri Rombati untuk berdagang. Dalam pengembaraan pelayaran itu direncanakan mereka terlebih dahulu singgah di pantai Kian dan pantai Ua Malessy di Pulau Seram. Namun pada tahap pelayaran beriktunya dengan tujuan langsung ke Pulau Tanah Iha, mereka kehilangan arah pelayaran dan terdampar di Pulau Banda. Di pantai pulau Banda mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Beyala. Masbait Pusan bertanya kepadanya, di mana letak pulau Tanah Iha dan Beyala menjawab disebelah matahari masuk sambil menunjuk ke Arah Barat. Kemudian mereka mengajak Beyala untuk ikut dalam pelayaran sebagai penunjuk arah. Namun tak disangka mereka terdampar lagi di pulau Seram di pantai Huamual, sehingga oleh Masbait Pusan di beri gelar “Sopaheluwakan" yang berarti petunjuk arah yang salah.. di pantai Huamual ini mereka bertemu lagi dengan seorang anak laki-laki yang bernama Nuolloh. Masbait Pusan pun bertanya kepadanya di mana letaknya pulau Tanah Iha dan ia menjawab di sebelah matahari naik sambil menunjuk ke arah Timur. Atas petunjuk dari Nuolloh, mereka bersama berangkat dan tiba dengan selamat di Pulau Tanah Iha. Masbait Pusan pun memberi gelar kepada Nuolloh yakni Sopamena soa Honimua yang karena ia sebagai penunjuk arah yang tepat. Di pulau Tanah Iha mereka mendarat di pantai Soa Honimua yang bernama Tehisolo. Tepat pada batu karang yang bernama Hatu Waliyowony. Kemudian mereka menaikkan perahu ke darat dan mereka membangun poporisa dan menyelidiki keadaan tempat yang belum pernah mereka kenal ini. Adapun penduduk pantai Soa Honimua yang melihat Masbait Pusan adalah Kelompok Pata Lima, dibawa pimpinan Salatalohy. Ketika ia melihat Masbait Pusan, ia sangat terkejut karena takut melihat wajah Masbait Pusan sosok yang tinggi dan besar ruas badannya, bila dibandingkan dengan orang-orang di tempat itu. Dalam waktu yang singkat tersiarlah berita tentang apa yang dilihat oleh Salatalohy, sehingga semua orang di Soa Honimua melarikan diri. Melihat keadaan yang demikian maka saudara perempuan Masbait Pusan yakni “Ikuollo” menganjurkan mengadakan Louhata yang dimaksudkan dengan Louhata adalah mengumpulkan rakyat atau berkumpul untuk mendengar titah atau penjelasan Raja. Setelah dengan susah payah Masbait Pusan, Lakesa,Hahosan,Beyala dan Nuolloh mengumpulkan orang-orang pengembara dari kelompok Pata Siwa dan Pata Lima dan memberikan penjelasan tentang maksud kedatangannya, sehingga muncul saling pengertian dan hubungan persahabatan di antara mereka dengan Masbait Pusan serta rombongannya. Hubungan persahabatan Masbait Pusan dengan kelompok Pata Siwa dan Pata Lima semakin erat dan Masbait Pusan berhasil menyadarkan, Kelompok Pata Siwa dan Kelompok Pata Lima, bahwa orang-orang yang mendiami Soa Honimua adalah senasib dalam mempertahankan Hidup. Penjelasan Masbait Pusan disuatu sisi dengan sendirinya menghentikan permusuhan dari Kelompok Pata Siwa dan Pata Lima, dan membangun hubungan yang erat lagi diantara dua Kelompok ini. Pada sisi yang lain kewibawaan Masbait Pusan menjadi pemimpin mereka di Soa Honimua. Dalam kehidupan bermasyarakat, mereka tidak membedakan asal-usul, karena sering diadakan Louhata dan melalui kebiasaan berkumpul inilah, maka masyarakat yang mendiami Soa Honimua disebut Louhata atau Masyarakat Louhata.

Komentar